Powered by Blogger.

Popular Posts

Latest Post

Blogger news

Showing posts with label realigi. Show all posts
Showing posts with label realigi. Show all posts

Pandangan Al-Quran Tentang Manusia

Written By Unknown on Saturday, 24 November 2012 | 04:06

Selamat pagi sob......
Walapun masih pagi and masih ngantuk nie hrus tetep semangat ya gk sob????
ok dh sob Berhubung sekarang hari juma'at saya akan kasih sedikit ceramah nie hehehehe.....
bkan cramah sih tapi siraman rohani dikit.......
ok dh kali ini Pos saya berjudul "Pandangan Al-Quran Tentang Manusia" ok dh ini dia silahkan lihat lihat ya sob n jngn lupa kasih komen ok


...............


MANUSIA
DALAM PANDANGAN QUR’AN…




Dalam Al Qur’an, manusia berulang kali diangkat derajatnya mengungguli alam surga dan bumi bahkan malaikat…, tetapi pada saat yang sama mereka juga direndahkan ke tempat yang paling hina bahkan lebih rendah daripada hewan. Oleh karena itu, derajat kemuliaan manusia dapat diraih tergantung sikap dan perilaku dirinya sendiri, sehingga nasib akhir dirinya pun, mereka yang menetapkan. Mau jalan taat atau jalan sesat…? Itulah sebabnya, kenapa nasib seseorang dapat dirubah. Hasil akhir dari upaya manusia, Allah SWT yang menentukan. Berikut ini akan dipaparkan bagaimana pandangan Al Qur’an terhadap manusia, baik yang positip maupun yang negatipnya.


·        SEGI-SEGI POSITIP MANUSIA

1.            Manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi.

..............................
 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…" mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau…?" Tuhan berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah : 30)

..............................

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al An’aam : 165)
2.            Dibandingkan makhluq lain, manusia mempunyai kapasitas intelegensia yang paling tinggi.

..............................

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar…!". Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini…" Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan…?"  (Al Baqarah : 31-33)


3.            Manusia mempunyai kecenderungan dekat kepada Allah SWT. Dengan kata lain, manusia sadar akan kehadiran Allah SWT, jauh di dasar sanubari mereka.

..............................

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu…?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi…". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Al Araf : 172)


..............................


Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya)…
(Ar Rum : 43)


4.            Manusia dalam fitrahnya, memiliki sekumpulan unsur surgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani, yang berbeda dengan unsur binatang. Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata dan metafisika, antara rasa dan non rasa, antara jiwa dan raga.

..............................


Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur…(As Sajdah : 9)


5.            Penciptaan manusia benar-benar telah diperhitungkan secara teliti, bukan suatu kebetulan. Karena manusia merupakan makhluq pilihan.

..............................


Kemudian Tuhannya memilihnya, Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk…(Thahaa : 122)


6.            Manusia bersifat bebas dan merdeka. Mereka diberi kepercayaan penuh oleh Allah SWT, dibekali dengan risalah yang diturunkan melalui para nabi dan dikaruniai rasa tanggung jawab. Mereka bebas memilih kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidupnya.

..............................

 “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (Muhammad) dengan berangsur-angsur…” (Al Insaan : 23)


...............

Seperti biasa lah sob......
yang di atas belum komplit, karna menghemat waktu and untuk kenyamanan para pembaca juga biar loading nya gk lama (modus males ngetiknya) hehehe
ok dh seperti biasa buat yang mau lihat lebih lengkap tanpa loading danjga bagi yang mau download bisa download dan melihat dengan mengklik gambar di bawah ini :





Tahapan Menuju Taqwa

Written By Unknown on Thursday, 11 October 2012 | 03:39

hai sob masih tentang keagamaan nie sob....
sekarang saya akan menerangkan tentang "Tahapan Menuju Taqwa" ok dh tanpa basa basi lagi ini dia Penjelasan lest's go..............




·        Latar Belakang

Sepanjang sejarah umat manusia dapat ditemukan beraneka ragam corak karakter atau tipologis suatu anggota masyarakat. Suatu stratifikasi sosial dalam masyarakat berkembang, dimana suatu elite berkehendak adanya suatu inovasi (pembaharuan), tetapi pada saat yang sama sang elite itu terancam kedudukan sosialnya, maka akan muncul akibat tumbuh suburnya “counter elite” atau “marginal man”. Marginal man dimaksud sebagai bentuk kelompok masyarakat yang tidak puas terhadap situasi sosial, namun tidak berdaya mengubahnya. Pada keadaan seperti itu, akan muncul penampilan-penampilan figur perorangan atau kelompok yang bersifat “mencari untung” dengan bisnisnya sendiri. Namun, orang yang tidak mau melibatkan dirinya dengan kaum elite yang mandek itu bukanlah apatis (cuek/acuh) semata, tetapi memang tidak ada “pintu” (peluang) untuk menampilkan diri. Demikian halnya bila mereka ingin membuat pintu (peluang) sendiri, juga dilarang (tdk boleh) !.

Dalam hubungan keadaan masyarakat seperti itu, dapat disaksikan lahirnya Ulama, Ilmuwan, Pemimpin dan Profesi lainnya yang tidak murni lagi. Tidak sesuai dengan predikat agung yang disandangnya, dan telah mengalihkan tujuannya yang suci hanya sekedar pemenuhan kebutuhan sesaat (kesenangan dunia) belaka, baik bersifat materi maupun fasilitas (jabatan). Corak masyarakat cari untung demi kebutuhan sesaat dan mengorbankan kesucian martabatnya itulah yang disebut sebagai “Kuli Kontrak”. Meskipun dia Ulama, Ilmuwan, bahkan Pemimpin, sudah tidak mampu lagi menampilkan keaslian atau orisinilitas fatwa, hasil studi atau keputusan politiknya—karena sudah dikontrak oleh elite diatasnya. Tidak ada kepribadian lagi…! dan martabat manusia yang tinggi pun telah hilang (sirna). Lihat dan perhatikan…, ciri-ciri atau indikasi orang yang menampakkan seperti itu di sekeliling kehidupan kita sehari-hari, betapa banyak dan hampir menyeluruh…

Tulisan ini untuk mengingatkan diri, agar supaya kita mampu berjalan di atas rel kehidupan sesuai tuntunan syariat agama yang dibenarkan. Tiada maksud mendikte apalagi menggurui, hanya sekedar mengingatkan saja sebagai bentuk kasih sayang (silaturahim) kepada sesama saudara seiman dan sebangsa. Insyaa Allah…!  

Berikut pengamatan faktual terhadap kelompok ulama, ilmuwan dan pemimpin. Mudah-mudahan dapat mewakili terhadap stratifikasi masyarakat lainnya.     


......................................................................................................................
“Dan kalau Kami menghendaki…, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia ulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir…”  (Al Araf : 176).

Sejak dulu, pernah terjadi ulama kontrakan itu yang mempermainkan Allah SWT dengan membisniskan, memanipulasi kandungan wahyu Allah untuk kepentingan dirinya, golongannya dan partainya. Contoh nyata…, ketika terjadi perang Siffien, dimana Ali sebagai khalifah mampu mendesak Mu’awiyah, maka serta merta Amru bin Ash sebagai kelompok Mu’awiyah mengkomandokan kepada lasykarnya untuk menusuk Mushaf (Qur’an) dengan ujung lembing serta dinaikkan sebagai tanda bersedia damai dengan hukum Al Qur’an. Ali yang sebenarnya dalam posisi kuat melihat Qur’an diangkat, mengurungkan niatnya untuk menyerang. Akhirnya dalam perundingan, delegasi Ali (Abu Musa Al Asy’ari) diperdaya dan tertipu, dan Ali pun turun dari kekhalifahannya digantikan Mu’awiyah.

Lain lagi dimasa Daulah Abasiyah, para ulama dipaksa untuk berfatwa apapun sesuai dengan way of life sang khalifah. Atas fatwa ulama yang “kontrakan” tersebut maka banyak orang menjadi korban, termasuk Imam Hambal yang harus meringkuk dipenjara, dicambuk, dihina agar merubah pendiriannya. Ibnu Taimiyah termasuk pula yang harus berulang kali masuk penjara karena mempertahankan hujjah-nya yang memang dianggap sesuai dengan Sunatullah dan Sunnaturrasul.       

Bagaimana halnya di abad 20 ini, masih ramaikah pasaran ulama kontrakan…? Tentunya ulama kontrakan abad 20, pastinya lebih up to date teknik kontrakannya sesuai dengan era informasi dan teknologinya yang canggih. Ulama kontrakan abad 20 kelihatan lebih intelek dengan menyandang berbagai title kesarjanaan dan argumentasinya yang penuh dengan mantic/logika, dan tidak segan-segan mengutip ayat-ayat Qur’an walaupun tidak pada tempatnya, dan mengutip hadist walaupun tidak sesuai dengan asbabul wurut atau hanya sekedar dijadikan pijakan moral, yang penting dapat terus manggung dipodium dan lengket dengan elite yang disembahnya. 

Fatwa yang dikeluarkannya diformulasi sedemikian rupa dengan referensi kepada literatur yang banyak, agar sah argumentasinya secara ilmiah naqliah yang bersumberkan Qur’an dan Hadist yang dikutipnya. Pernah sewaktu-waktu dikeluarkan fatwa bahwa judi itu halal asal orang Islam tidak ikut. Suatu waktu pengguguran kandungan (aborsi) juga bisa dilegalisasi. Film porno dan majalah bergajul lewat mulus ketengah-tengah masyarakat, dengan suatu fatwa masyarakat kita bijaksana…, bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Lain kesempatan berfatwa pula bahwa tak ada hubungan antara Islam dengan Politik. Kata Imam Ghazali, ulama kontrakan seperti itu disebut sebagai Ulama Mahjuj…”, yaitu ulama yang sebenarnya paham akan hukum Allah, perintah-Nya, tentang ayat-ayat-Nya tetapi dia lebih melihat dirinya merasa besar dan benar, sehingga telah tertutup kealimannya dan ketajaman ilmunya oleh kemewahan hidup dunia. Dia tamak, jauh dari keberkahan ilmu, cinta akan ketinggian status…, dan takut kalau hidupnya menderita karena miskin. Dia telah menjadi hamba kemewahan dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Araf ayat 176 diatas.


·        Gambaran Kehidupan
(ERA GLOBALISASI)

Sudah tidak diragukan lagj, bahwa moderenitas yang meng-global telah melahirkan individu-individu kapitalis yang egois. Pola pikir kebendaan (materialistis) yang tampak terlihat dan terasa, telah mendominasi umat manusia di dunia. Berlomba-lomba dalam mengejar kesenangan dan kemewahan materi dunia sudah menjadi tujuan hidup dan alasan yang membenarkan manusia dalam meraih kebahagiaan ataupun kesuksesan hidup. Begitu kuatnya daya tarik dunia, sehingga banyak dari kaum muslimin pun jatuh terperangkap dalam kubangan kenistaannya. Lihat saja…, bagaimana sistem kehidupan ini dibuat sedemikian rupa oleh pecinta dunia dalam upayanya menunjang semua keinginan nafsu mereka. Mulai dari sistem pemerintahan, perdagangan (barang dan jasa), perbankan, asuransi, tenaga kerja sampai kepada bidang keagamaan pun, ikut termasuk dalam rekayasa pencetakkan mesin uang. Astaghfirullah…  

Sadar ataupun tidak, bahwa sebagian besar umat manusia telah menjadikan Uang sebagai Tuhannya, dan kata “Sukses” sudah menjadi berhala baru dalam era globalisasi sekarang ini. Cobalah tanya, bagaimana gambaran orang sukses jaman sekarang…? Jawabnya tidak jauh dari kemapanan ekonomi…!? (rumah mewah, mobil bagus, uang banyak, harta berlimpah, jabatan tinggi serta penampilan yang gaya dan keren…). Penyembahan yang berlebihan kepada materi dunia, telah menjadikan umat manusia kehilangan jati diri serta melupakan tujuan dan maksud hidup sebenarnya. Akhirnya apa yang terjadi…? Tatanan kehidupan masyarakat menjadi rusak dan hancur, karena nilai moral yang tertanam dalam diri setiap orang hanya mengikuti keinginan dan kesenangan nafsu (syahwatnya) saja. Sehingga yang ada dalam pikiran umat (manusia) sekarang ini hanya tertuju pada materi dunia, yang menurut mereka diartikan sebagai lambang kesuksesan hidup. Tidak aneh, apabila jabatan birokrasi jadi rebutan, sehingga partai polotik tumbuh seperti jamur di musim hujan. Orang tua yang kaya tapi bodoh, suka rela menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi atau universitas terbaik, walau dengan (suap) mengeluarkan kocek ratusan juta rupiah demi gelar profesi yang dianggap memiliki prospek cerah bagi kehidupan anak-anak mereka.  

Budaya dan mental hidup masyarakat kita menjadi Individualis yang Irrasionalis…, mau enak sendiri, gak mau ngalah, sangat na’if dan rakus mengejar kesenangan semu materi dunia. Senang melihat orang susah dan susah jika orang lain senang…. Kepekaan dan kepedulian sosial sudah nyaris hilang dalam kehidupan masyarakat kita, yang dulu terkenal dengan sistem kekeluargaan dan gotong royongnya, sehingga tidak ada lagi kasih sayang dan tenggang rasa terhadap sesama. Yang ada sekarang hanya saling hasud dan berbangga diri dengan gaya hidupnya masing-masing. Beda dengan budaya barat yang diconteknya. Walaupun mereka individualis (hidupnya masing-masing…?), namun masih memiliki kepekaan dan solidaritas yang tinggi terhadap nasib hidup orang lain yang kurang mampu. Mereka masih memiliki jiwa dan semangat heroik (kepahlawan). Terbukti dengan banyaknya sumbangsih mereka dalam hal membantu korban bencana alam ataupun korban perang. Dan mereka masih mau membela nasib orang yang tertindas atau yang terdzholimi (masih ada kasih sayang). Individualis, tapi masih rasional. Sementara masyarakat kita…? Jangankan untuk membantu orang lain dengan sejumlah materi…? Untuk sekedar dimintai tolong jasa saja susahnya minta ampun. Cobalah perhatikan…, bagaimana perilaku masyarakat kita, ketika di jalanan terjadi kemacetan…?. Semua main sodok, malahan dengan sengaja mempersempit jalur, agar supaya jalanan tambah macet…. Rasanya mereka senang melihat orang lain susah. Dan lihat pula perilaku pejabat birokrat secara umum…?, Lalu bagaimana pula perilaku dokter dan paramedis di rumah-rumah sakit…?, Tidak ada uang, jangan harap ada pelayanan…! Dan juga perhatikan bagaimana perilaku para Da’i bayaran…? Sungguh, kebanyakan mereka hanya mementingkan materi...! Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, apalagi keadilan dan akhlaq mulia…? Masyaa Allah…!


·        MASYARAKAT KAPITALIS yang INDIVIDUALIS

Hidup kaya raya dan berkecukupan secara materi merupakan gambaran sukses kehidupan bagi sebagian besar masyarakat modern era globalisasi… Kata SUKSES sudah menjadi berhala baru, sebab sukses diartikan dengan keberhasilan hidup materi. Banyak uang, memiliki jabatan tinggi, dan dianggap penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menjadikan mental bangsa menjadi sangat rapuh, karena hilangnya jati diri dan prinsip-prinsip kebenaran yang hakiki. Uang sebagai alat tukar telah menjelma menjadi ilah baru yang posisinya dianggap sangat menentukan dalam kelangsungan hidup umat manusia dewasa ini. Sehingga tidak perlu heran dan aneh apabila masyarakat kita sudah banyak yang kehilangan akalnya dalam menempatkan nilai alat tukar ini.

Lihat dan perhatikan…, bagaimana rutinitas hari-hari masyarakat global sekarang ini menjalani aktivitasnya dalam upaya mencari dan berburu kesenangan dunia yang berupa uang tersebut, mulai pagi-pagi buta hingga malam hari, bahkan hingga datang pagi lagi. Sehingga ada anekdot dikalangan orang mesjid, katanya mereka itu masuk dalam golongan angkatan 59, pergi jam 5 pagi, pulang jam 9 malam…! Fenomena ini akan tetap terus bertahan sampai mereka ketemu ajal (maut). Sebab, dunia ini memang sangat menyibukan dan melenakan bagi orang-orang yang mencintainya. Sudah dari jaman dulu, sejak diciptakannya manusia, bahwa yang namanya kesenangan dunia walau hanya semu, sesaat dan sebentar saja…? Tapi begitu dahsyatnya sehingga seorang Qorun bisa lupa diri, sombong dan bangga, karena hartanya berjibun. Bahkan Fir’aun laknatullah, berani menyatakan dirinya sebagai tuhan…! Semua akibat buruk pengaruh kesenangan dunia (Harta, Tahta dan Wanita).

Sistem perekonomian dibuat sedemikian rupa, sehingga dipolitisir agar perputaran uang yang dihasilkan oleh kegiatan bisnis hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memiliki power (kekuasaan) saja. Gak usah heran, bila ada spekulan, koruptor ulung dan diktator berjaya dan berkibar di negeri Indonesia yang kaya ini. Karena memang, semua aturan yang berlaku sekarang ini adalah duplikasi dari contoh sukses orang-orang kafir, yang diwakili bangsa barat. Inilah sebabnya, kenapa sebagian besar masyarakat kita sudah begitu banyak kehilangan arah dalam tujuan hidup sebenarnya, sehingga tidak lagi mencerminkan sebagai bangsa yang agamis dan berakhlak. Hampir tidak ada lagi yang bisa membedakan antara orang muslim dan non-muslim. Gaya hidup dan pola pikir mereka sudah sama. Bekerja, berdagang dan bergaul sama saja…! Mungkin hanya baju dan nama saja yang membedakannya. Si Abdul pakai gamis dan peci, sementara si Marcus pakai jas dan kemeja berdasi…

Sistem demokrasi yang katanya akan membawa pada pembaharuan, hanya dijadikan metode atau alat untuk meraih jabatan dan kekayaan semata. Bermacam-macam partai poloitik dan ormas lain dibentuk hanya untuk membela golongannya saja. Jauh dari visi dan misi untuk perbaikan apalagi kesejahteraan dan keadilan. Yang ada hanya saling berebut untuk kesenangan materi dunia. Tidak aneh, apabila para anggota caleg yang bernaung dibawah parpolnya memanipulasi diri dengan atribut embel-embel gelar agar supaya dipercaya rakyat. Sebab sesungguhnya mereka kebanyakan hanya mencari uang dan kesempatan untuk bisa hidup kaya diatas kendaraan demokrasi yang selalu mereka gembar-gemborkan. Kondisi ini menjadikan sebagian besar masyarakat kita berfikir pragmatis dan na’if, karena hidupnya cuma berfikir bagaimana caranya bisa jadi orang sukses. Tentunya dengan bayangan banyak uang, rumah megah, mobil mewah, istri cantik dan jabatan tinggi. Keluar masuk kerja di ruangan gedung mewah ber-AC yang dilengkapi asesoris teknologi canggih dan mahal…! Sehingga pada akhirnya budaya hedonisme (mengejar kesenangan sesaat) menjadi budaya dan gaya hidup. Kalau sudah begini maka tatanan hidup masyarakat menjadi rusak, sebab sudah tidak ada lagi kepekaan, kasih sayang dan toleransi pada sesama. Semua berfikir hanya untuk mementingkan diri sendiri saja. Bagaimana mungkin ada Silaturrahmi…, bila setiap individu bisanya cuma mikiriin jadi orang kaya saja…? Sikut kiri, sikut kanan, injek bawah jilat atas…, yang penting bisa kaya…!  Masyaa Allah !    

Kondisi yang menyedihkan dari suatu tatanan hidup masyarakat yang mengaku mayoritas Islam ini, telah begitu lama melanda hingga detik ini. Dan anehnya semakin rusak dan parah seiring terjadinya krisis ekonomi yang mengglobal. Dasar aqidah yang lemah, pola pikir yang salah dan gaya hidup kebarat-baratan dari sebagian umat, telah menjadikan negara kita ini menjadi momok, bahan ejekan bangsa lain dikarenakan sudah hilangnya jati diri bangsa yang katanya berbudaya. Budaya maling (korupsi), mau enteng untung, dan egoistis (gak mau ngalah) telah membelah rasa`persaudaraan antar suku dan agama. Hidup seperti api dalam sekam, kelihatan adem ayem, padahal bergejolak saling buru untuk mengalahkan satu sama lainnya. Masing-masing bersiasat untuk mendapatkan kemenangan diri, yang ujung-ujungnya materi dunia… Masyaa Allah !
Bagaimanakah seharusnya orang Islam (yang mukmin) menghadapi dunia sekarang ini…? Terhadap pertanyaan ini, lebih dahulu kita harus memahami kedudukan dunia dan tingkatannya, setelah itu barulah kita akan dapat memperlakukan dunia itu seperti yang dituntunkan Al Qur’an dan Sunnah Rosul. Bahwasanya dunia terbagi atas 3 tingkatan, yaitu :

·        Pertama, dunia yang menguntungkan dengan berbagai ganjaran dan pahala.
·        Kedua, dunia yang menarik dan menimbulkan berbagai perhitungan.
·        Dan ketiga, dunia yang menyebabkan seseorang menerima siksa dan adzab.

Dunia yang mendatangkan keuntungan dengan berbagai pahala dan kebaikan adalah dunia yang dijadikan ladang amal untuk akherat. Yaitu dunia yang menghubungkan kita dengan perbuatan-perbuatan yang baik dan mampu menyelamatkan dari segala macam kecelakaan. Dunia yang tidak dapat melalaikan seseorang untuk beribadah kepada Allah. Itulah dunianya orang yang beriman.

Dan dunia yang menarik kepada berbagai perhitungan, yaitu dunia yang menghalangi seseorang untuk menunaikan segala perintah dan amanat Allah, dalam menuntutnya kita pun tidak melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Dunia semacam ini akan menarik kita pada perhitungan (hisab) yang amat panjang, dan mereka ini termasuk orang-orang kaya yang di dahului oleh orang-orang miskin masuk ke dalam “Jannah” selama 500 tahun lebih dulu.

Kemudian dunia yang akan menyebabkan kita menerima siksa dan adzab, yaitu dunia yang memalingkan kita dalam menunaikan segala kewajiban kepada Allah SWT, dan menceburkan diri kita ke dalam larangan-Nya. Dunia semacam ini akan menyeret pemiliknya ke dalam tempat celaka. Mayoritas dari penghuni dunia semacam ini adalah terdiri dari orang-orang kafir, munafik, musyrik dan dzalim serta orang-orang fasik. Mereka menuntut dunia hanyalah untuk memenuhi tuntutan nafsu dan syahwat, serta mengecap kenikmatannya semata. Orang-orang ini bagaikan hewan ternak, bahkan lebih buruk daripada itu.

....................................................................................................................
  
“…dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka. (Muhammad : 12)


...................................................................................................................
  
Atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami…? mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak)... (Al Furqon : 44)

Demikian Allah SWT memberikan perumpamaan manusia yang hidupnya cuma sebatas perut dan kemaluan saja, yaitu kehidupan dunia. Tapi kebanyakan manusia tidak pernah mau tau terhadap peringatan dan janji Allah SWT. Sungguh sangat memprihatinkan apabila kondisi ini terus berlanjut, sebab walau bagaimanapun mereka tetaplah saudara kita yang mungkin belum paham atau belum mengerti tentang maksud hidup sesungguhnya. Maka sudah sepantasnyalah apabila berita langit ini kudu disampaikan. 


.................................................................................................................................
  
Demi masa…, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Ashr 1-3)





maaf lg ya sob gk ada ayatnya alasan nya biasalah kya postingan sebelumnya
n yang di atas blum selesai lo sob penjelasan nya....
masih sama alasan nya sama kayak postingan sebelumnya......
ok dh yang mau download n baca secara lengkap lihat aja dengan cara ckik gambar di bawah ini:


6 Sifat Sahabat Menurut Pandangan Islam


ai sob, kalin ini saya akan berbagi ilmu agama nie sob.... hehehe
eits tapi bukan karna saya religius lo..... hehehehe 
bercanda kok bercanda...
ok dh sob lansung aja saya kasih tau 6 sifat sahabat menurut pandangan islam ini dia :

 .........


·        “6 (Enam) Sifat Sahabat…”

Dari sekian banyak sifat yang dimiliki para sahabat Nabi SAW, disimpulkan bahwa pada dasarnya ada persamaan sifat-sifat mereka yang sangat dominan (menonjol)…, sehingga mereka mendapatkan gelar “radiallahu anhum…”, yaitu orang-orang yang mendapat ridho Allah SWT… dan oleh “Jamaah Tabligh” sifat-sifat tersebut dijadikan pedoman dalam meniru-niru usaha dakwah mereka di seluruh alam. Itulah sebabnya mengapa ada istilah “6 Sifat…” dalam dakwah. Dengan mendakwahkan pentingnya 6 sifat ini, maka Insya Allah…, umat Islam mampu mengamalkan agama ini dengan sempurna seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Untuk menanamkan “6 Sifat…” ke dalam hati umat muslim ini diperlukan 3 syarat saja, yaitu pertama Dakwahkan pentingnya sifat-sifat mulia tersebut kepada seluruh umat muslim, kedua Latihan (amal) dalam kehidupan sehari-hari, sehingga muamalah, muasyarah dan akhlaq umat menjadi lebih baik. Dan yang terakhir adalah ber-Do’a kepada Allah SWT agar kita dan seluruh umat muslim seluruh alam ini, memiliki sifat-sifat mulia tersebut. Sehingga mampu mengamalkan agama secara sempurna seperti yang telah dicontohkan oleh para sahabat r.hum tersebut. Maka insya Allah, kemuliaan, kejayaan dan kesuksesan hidup umat muslim akan bangkit dan berjaya kembali seperti halnya jaman Nabi SAW dan para sahabat r/hum.

Umat Islam saat ini belum mampu mengamalkan agama secara sempurna, disebabkan imannya yang lemah. Sehingga derajat keyaqinannya hanya sebatas apa yang di lihat dan dirasakan saja. Belum mencapai derajat haqul yaqin seperti halnya para sahabat Nabi SAW. Dengan demikian, maka kapasitas amal ibadahnya pun, belum sempurna bahkan masih banyak kewajiban-kewajiban agama yang dihiraukan bahkan tidak peduli atas nasib diri dan agamanya.

“Dakwah adalah tarbiyah umat untuk mendapatkan sifat-sifat yang dikehendaki Allah SWT dalam upaya mencapai kesempurnaan iman
dengan cara bertahap…”

Agama itu penting…! Tetapi usaha atas agama (Dakwah) adalah jauh lebih penting. Seperti halnya manusia perlu makan, dan apabila tidak makan maka dia akan mati. Karena dakwah adalah tulang punggungnya agama…!  Tanpa dakwah, maka agama akan mati.

Rasulullah SAW telah diberi tugas kenabian yang ilahiah untuk menyeru umat manusia agar supaya menyembah ALLAH SWT. yaitu dengan membacakan ayat-ayat-Nya dan membersihkan tabiat-tabiat manusia yang tidak dikehendaki dengan cara mengajarkan al Kitab (Qur’an) dan al Hikmah (Sunnah). Didukung dengan Qur’an dan Hadist-hadist yang shahih, bahwa umat Nabi SAW telah diberi tugas untuk mengusahakan hidayah bagi semua umat manusia di seluruh alam supaya beriman kepada Allah SWT…

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk mengorbankan diri, waktu dan hartanya, untuk menyeru manusia agar beriman kepada Allah SWT, belajar dan mengajar ilmu agama, berdzikir dan beribadah kepada Allah SWT. Dan para sahabat Nabi SAW telah mengamalkan semua itu dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, dengan mengorbankan kepentingan pribadinya untuk membantu, mengabdi dan berkorban demi kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka telah dilatih untuk memberi manfaat kepada sesama manusia dengan pengorbanan fisik maupun material untuk memenuhi perintah Allah SWT, seperti diterangkan dalam Qur’an :
................................................................................................................................  
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dia-lah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong. (Al Hajj : 78)

Para sahabat r.hum telah berjuang mengikuti cara Rasulullah SAW dengan ketaqwaan, keteguhan, disiplin, pengorbanan diri dan mengutamakan kepentingan orang lain (saudara sesama muslim) daripada kepentingan diri mereka sendiri. Dengan demikian, maka sebuah lingkungan telah diciptakan yang memunculkan contoh-contoh mulia, yang menjadi generasi terbaik dari umat ini. Suatu zaman yang amalan-amalan Nabi SAW telah diamalkan secara kolektif oleh umat yang dinyatakan sebagai “Khoirul Qurun” (sebaik-baik zaman, atau sebaik-baik umat pada zaman itu).

................................................. 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…(Ali Imran : 110)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah SWT memberikan mandat kepada umat muslim ini untuk menjadi “Umat Da’i…” yaitu melanjutkan tugas kerja kenabian dalam upaya menyelamatkan umat manusia dari siksa api neraka dan azab Allah SWT dengan cara mengajak kepada kebajikan bagi seluruh umat manusia di seluruh alam, menyeru pada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Karenanya tugas dakwah sekarang ini merupakan tanggung jawab utama bagi umat manusia yang mengaku dirinya muslim. Bukan hanya tugas para ulama atau mubaligh saja seperti anggapan orang awam umumnya, melainkan seluruh umat muslim dunia harus ikut berperan aktif, berpartisipasi langsung dalam rangka menegakkan Panji Islam ini. 

Buah dari hasil perjuangan dan kerja keras dakwah para sahabat Nabi SAW ini, telah dibuktikan dengan adanya penyebaran Islam ke seluruh pelosok negeri di muka bumi ini, termasuk Indonesia yang dikenal sebagai negara mayoritas Islam. Cahaya dari usaha dan pengorbanan mereka masih tetap bersinar dalam dunia Islam hingga saat ini… Namun demikian, se-iring perjalanan waktu dan semakin canggihnya dunia teknologi maka tidak sedikit umat Islam sekarang ini, yang telah meninggalkan ajaran syariat agamanya. Kecintaan terhadap dunia telah merasuk jauh ke dalam lubuk hatinya sehingga mereka banyak melupakan tujuan hidup sebenarnya. Mereka sibuk dengan urusan dunia dan ikut hanyut dalam menikmati segala tipu dayanya, sehingga lupa pada kehidupan akherat yang abadi selamanya... Sebagaimana pernah disabdakan Nabi SAW, bahwa akan datang suatu zaman, dimana umat Islam akan terkena penyakit “WAHN…”, yaitu cinta dunia dan takut mati. Islam hanya tinggal nama seperti buih di lautan ; mesjid banyak dibangun tetapi sepi dari jamaah ; dan Al Qur’an hanya akan tinggal tulisan saja yang banyak dipajang umat sebagai hiasan rumah.

Kerisauan ini telah begitu mengusik hati Syaikh Muhammad Ilyas rahmatullah ‘alaih untuk mencoba memperbaiki keadaan umat. Beliau selalu risau dan bimbang…, sehingga berupaya dan terus berfikir untuk menghidupkan kembali kejayaan Islam yang pernah diraih oleh para sahabat r.hum. Dan beliau juga menganjurkan dengan keyaqinan yang pasti bahwa usaha untuk menghidupkan agama hanya akan berkesan dan diterima, apabila dilakukan dengan cara-cara Rasulullah SAW. Oleh karena itu, sifat seorang Da’i (orang yang menyeru kepada Islam) perlu ditarbiyah. Keinginannya harus konsisten dengan ilmu, amalan, pemikiran (persepsi), nafsu, kasih sayang dan cara berdakwahnya seperti semangat para nabi a.s., teristimewa nabi Muhammad SAW. Mereka tidak hanya harus memiliki iman yang kuat dan mantap serta amalan-amalan saleh, kerohaniannya pun harus seperti para nabi a.s.  

Dengan adanya kriteria Da’i tersebut diatas, maka muncul-lah karakteristik sifat sahabat Nabi SAW. yang insya Allah…, dapat ditiru-tiru oleh kita sebagai umat muslim dalam melaksanakan dan melanjutkan tugas dakwah Nabi SAW di zaman global yang katanya serba canggih dan moderen ini. Mudah-mudahan dengan adanya panduan dari sifat para sahabat Nabi SAW ini, menjadikan pola pikir dan gaya hidup umat Islam yang katanya sudah gak karu-karuan…, menjadi karuan kembali. Sungguh hal yang ganjil dan aneh apabila kita perhatikan kondisi umat Islam sekarang ini, dimana mereka mengaku umat Nabi Muhammad SAW yang katanya dijadikan “Uswatun Hasanah…” suri tauladan terbaik, namun praktek amaliahnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang kafir…? Hanya nama dan baju saja mungkin yang berbeda... si Abdul pakai baju gamis, sementara si Marcus memakai jas dan kemeja berdasi…? Tapi pola pikir dan gaya hidupnya sama, yaitu senang bergaya hidup mewah, suka pamer kekayaan dan berbangga-bangga dengan banyaknya harta…! Status sosial (jadi Orang Kaya) menjadi Tujuan Hidup, dan kata Sukses diartikan dengan kesenangan dunia…, seperti memiliki jabatan tinggi dan melimpahnya harta…, rumah yang mewah, mobil yang bagus serta uang dan harta yang banyak...!? Sedangkan urusan agama yang menyangkut perkara iman dan amal saleh menjadi nomer 11…! Seolah-olah hidupnya gak akan pernah mati !

Demikian rusaknya kondisi umat sekarang ini, karena lemahnya iman dan keyaqinan akan kehidupan akherat. Mereka berani mengorbankan kesenangan yang banyak dan abadi dengan yang sedikit dan sementara, cuma karena ingin dinilai dan dihargai orang lain alias “Riya”(Pupujieun). Masalahnya cuma karena mereka takut disebut orang miskin..!?

Umat Islam saat ini belum mampu mengamalkan agama dengan sempurna seperti para sahabat Nabi SAW, karena tidak memiliki sifat-sifat mulia yang dikehendaki Allah SWT seperti yang mereka miliki, sehingga pantas apabila mereka diberi gelar “radiallah anhum…” (orang yang diridhoi Allah SWT). Hal ini dijelaskan dalam ayat Qur’an : 

š

................................................. 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar… (At Taubah ; 100)

Jadi, apabila umat sekarang ini ingin mengamalkan agama dengan sempurna, maka syaratnya harus memiliki sifat-sifat mulia, seperti yang dimiliki para sahabat r.hum tersebut. Sebab Allah SWT telah menetapkan kebahagiaan makhluk ciptaan-Nya itu sesuai fitrahnya. Seperti ikan yang akan bahagia apabila hidupnya di air, burung akan bahagia bila hidupnya bebas di udara, dan manusia akan bahagia hidupnya apabila taat dalam ajaran agamanya. Sudah menjadi Sunatullah…, apabila makhluk mencari-cari kebahagian berdasarkan nafsunya, maka tentu tidak akan pernah wujud yang namanya kebahagiaan tersebut. Tidak ada seorang pun yang menginginkan hidupnya susah dan binasa. Semuanya ingin bahagia (tenang, tenteram, damai dan sejahtera), baik di dunia maupun di akherat. Dan kebahagiaan umat Islam ini hanya terletak pada amalan agama yang sempurna. Jadi tergantung pada tingkat keimanan dan keyaqinannya, sehingga kata Taqwa menjadi tolak ukurnya. Sejauhmana ketaatannya dijalankan, maka sejauh itu pula tingkat kebahagiaan yang diperolehnya. Inilah kunci sukses hidup yang hakiki, yang telah dibuktikan orang-orang saleh dahulu.




................................................. 

“orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram…”
(Ar Rad ; 28)

Hari ini agama telah terlepas dari kehidupan manusia. Orang-orang tidak merasa takut dan menyesal jika tidak mengamalkan agama. Sementara hubungan dengan rumah sangat kuat sehingga apabila rumah terbakar merasa sangat sedih. Hubungan dengan pekerjaan sangat kuat sehingga tidak mau meninggalkan perniagaannya walau hanya sementara. Hubungan dengan anak isteri sangat kuat sehingga apabila mereka sakit, akan ikut bersedih dan berusaha mencari cara penyembuhannya. Namun jika agama yang sakit, tidak merasa sedih bahkan biasa saja. Ketika berkumpul dengan keluarga atau sedang berada ditempat kerja tidak mengantuk, namun ketika mendengarkan pembicaraan iman dan amal saleh keadaannya seperti orang sakit, karena hubungan dengan agama sangat lemah. Sebagaimana hubungan pedagang dengan tokonya, setiap hari ia datang ke toko, mimikirkan kemajuan tokonya. Malam hari pun memikirkan dagangannya. Begitu pula apabila hubungan dengan agama kuat, maka setiap hari yang dipikirkan adalah agama. Bagaimana agar agama bisa wujud dalam kehidupannya, keluarganya, lingkungannya dan seluruh alam…! Jika tidak membiasakan diri dengan amal-amal agama, maka akan lalai mengingat Allah SWT di kantor, di pasar, di sawah, di ladang, di pabrik lupa kepada Allah SWT. Di mesjid lalai, bahkan ketika sholat pun lalai kepada Allah SWT. 

Apabila manusia hanya berhubungan dengan makhluk, maka nantinya akan takut kepada makhluk dan akhirnya mengharap dan meminta kepada makhluk. Ini adalah keyaqinan yang rusak sebagaimana keyaqinannya orang-orang kafir. Jika manusia hanya yaqin kepada apa yang dilihat atau yang dirasakan, maka kehidupan manusia tidak berbeda dengan hewan, yang hanya meyaqini apa yang dia lihat. Seekor sapi ketika melihat rumput, langsung mengklaim bahwa ini adalah makanan saya.




................................................. 

Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.. “
(QS. Muhammad : 12)

Orang beriman ketika memperoleh makanan, senantiasa bertanya lebih dulu, “Apakah makanan ini halal, baik sumber dan cara mendapatkannya..? Jika halal, apakah ada hak orang lain pada makanan itu yang perlu dibagikan..? Jika makanan itu untuknya, maka dia akan makan dengan cara Nabi SAW.

Hari ini keyaqinan umat sedang rusak, imannya sedang sakit. Sumber penyakit inilah yang harus disembuhkan terlebih dahulu, bukan memperbaiki gejalanya. Keadaan politik, hukum, ekonomi, budaya dan pemerintahan serta yang lainnya yang tidak sehat adalah gejala penyakit iman. Jika umat sibuk memperbaiki gejalanya, maka masalah tersebut tidak akan pernah selesai. Dan sumber dari segala sumber penyakit (kesalahan) umat manusia adalah kecintaan pada dunia yaitu Harta…!

“Harta adalah Penyakit-nya agama…, sedangkan Ilmu adalah dokter-nya… Bagaimana mungkin seorang dokter mampu menyembuhkan penyakit pasiennya…? sementara dokternya sangat cinta dan sayang pada penyakit tersebut”.

Agama tidak akan pernah wujud dalam diri setiap umat muslim, apabila dalam hatinya masih ada kecintaan terhadap dunia. Dunia dicari hanya sebatas keperluan, bukan maksud tujuan hidup, seperti layaknya orang buang air besar di dalam WC. Tentu tidak ada gunanya berlama-lama di dalam WC…! Karena kita semua akan dikembalikan pada alam  kekal abadi selamanya yaitu kampung akherat. Ulama mengatakan bahwa kehidupan manusia itu diibaratkan sebuah perjalanan, dimana setiap ada pohon kita berteduh untuk melepas lelah. Kemudian kita berjalan lagi, istirahat lagi…, hingga akhirnya sampai pada tujuan yang kita inginkan. Jadi, mengapa kita harus betah berlama-lama diam di tempat peristirahatan yang sementara ini…? Alam ruh, alam rahim (kandungan), alam dunia, alam kubur, dan alam akherat adalah ibarat pohon-pohon tadi sekaligus rute perjalanan hidup yang mau tidak mau harus dilalui oleh setiap manusia.

Coba saja bayangkan…, bagaimana seandainya kalau kita mati tahun ini, sementara hari kiamat tidak pernah tahu kapan…? Apakah tahun 10 ribu, tahun 1 juta atau mungkin tahun 1 milyar…? Dan bayangkan juga orang-orang yang telah lebih dulu meninggalkan kita 1000 atau 2000 tahun yang lalu…? Sedang apa mereka sekarang…!? Katanya siksa kubur itu ada bagi orang-orang berdosa yang tidak sempat bertobat...?! Kasihan sekali menunggu waktu yang gak jelas kapan endingnya…??

Orang bule bilang, “Waiting is boring…!” yang artinya menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Jangankan pada tempat yang gelap dan menyedihkan…? Ditempat yang menyenangkan pun tetap saja membosankan..! Dan sebaik-baik bekal hidup di akherat tiada lain adalah hanya Iman dan Amal Saleh. Bukan harta atau pun yang lain..! Semua materi dunia yang di klaim milik kita, tidak akan pernah dibawa dan tidak mampu menyelamatkan kita dari azab Allah SWT, malahan akan menjadi sandungan amal ketika berada dalam hisab (hari perhitungan) nanti. Think it!  

Seandainya saja, setiap diri umat Islam memiliki pola pikir dan gaya hidup sederhana (Wara’) seperti para sahabat r.hum, yang lebih mengutamakan kehidupan akherat dibanding dunia…? Tentu alangkah indahnya Islam, sebab pasti dan pasti yang namanya muamalah, muasyaroh dan akhlaq yang baik akan wujud dalam diri umat. Perdagangan menjadi jujur, hubungan sosial menjadi rukun dan solid, pemerintahan bebas korupsi, negara aman dan makmur, kehidupan beragama menjadi harmonis dan indah…, karena adanya keberkahan dan kasih sayang Allah SWT. Kesuksesan, kemuliaan dan kejayaan Islam akan terwujud kembali seperti pada zaman para sahabat dahulu.   

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan ketinggian derajat mereka dengan kemuliaan, dan kebenaran agama ini dan kemenangan serta kekokohan kedudukan mereka di muka bumi. Maka barangsiapa diantara mereka beramal dengan amalan akherat tetapi tujuannya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka tidak ada baginya bagian (keuntungan) di akherat kelak” (HR. Ahmad dan Ibnu Katsir)

Hari ini umat Islam tidak sadar, bahwa agama telah dirusak, bahkan tidak sadar bahwa agama perlahan-lahan mulai keluar dari dalam dirinya. Merasa bangga hidup dalam kemusyrikan, saling berbangga hidup dalam kemunafikan dan saling berbangga hidup dalam kejahilan. Ketika berhadapan dengan urusan perut dan sejengkal dibawahnya, ia mengikuti cara-cara orang kafir dalam mendapatkan dan memanfaatkannya. Ia bangga dengan pakaian orang-orang kafir, bahkan tanpa sadar seluruh gaya hidup dan pola pikirnya mengikuti cara-cara para ahli bathil. Hal ini dapat kita lihat pada penayangan acara-acara TV yang lebih menonjolkan kemewahan semu dunia dan maksiat. Wanita-wanita muslim sudah tidak nampak lagi jatidirinya, sebab sudah menjadi konsumsi publik (tebar pesona dengan mengumbar aurat...). Berbagai macam lomba dan kontes digelar dan diacarakan untuk membius umat, agar lupa pada agama dan akherat. Berbondong-bondong ingin jadi artis…, dibuai oleh mimpi indah bergelimang harta dan ketenaran. Sampai anak-anak pun dieksploitasi, di didik materialis dan di rusak akhlaqnya…! Orang tuanya pun ngedukung lagi…, Masya Allah !

“Kalian pasti akan mengikuti perilaku orang-orang terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk ke liang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka..” Para sahabat rad. hum bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang yahudi dan nasrani…? Nabi SAW menjawab, “Siapa lagi…?!” (HR. Bukhari dan Muslim)  

Untuk mengembalikan ajaran dan amalan agama secara sempurna, maka tiada cara lain kecuali dengan mengikuti cara Rasulullah SAW. Tidak ada cara lain…!, sebagaimana bila melihat hanya dengan mata, mendengar hanya dengan telinga, berbicara hanya dengan mulut dan berjalan hanya dengan kaki. Agama itu penting, tetapi usaha atas agama jauh lebih penting. Usaha agama lebih penting dari usaha tanah, air dan udara. Usaha atas iman jauh lebih penting daripada usaha menjadi selebriti. Jika kekurangan udara atau makanan, maka penderitaannya hanya bersifat sementara dan akan berakhir dengan kematian. Dan jika gagal jadi artis, paling-paling gak ngetop…!? Tetapi jika kekurangan dalam amalan agama disebabkan lemahnya iman…? Maka yang timbul adalah kehinaan, kesengsaraan dan kegagalan yang luar biasa, baik di dunia maupun di akherat yang tidak pernah berakhir selamanya…Think it !

Cara-cara Nabi SAW ini telah terangkum dalam wujud amalan para sahabat r.hum yang telah terbukti sukses di dunia dan akheratnya. Karenanya, kita perlu memahami dan mengikutinya agar supaya kita juga termasuk orang-orang yang sukses seperti mereka… Insya Allah…, Amin.   





·         “6  Sifat Sahabat…” yaitu :

1.      Menjunjung tinggi makna “LAA ILAHA ILLALLAH…, MUHAMMADUR RASULLULLAH…” .




................................................. 

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku"… (Al Anbiyaa : 25)

IMAN…, adalah membenarkan dengan penuh keyaqinan. Dan menurut agama, IMAN adalah membenarkan yang diberitakan Rasulullah SAW dengan penuh keyaqinan tanpa perlu adanya bukti yang nampak. Begitulah hakikat Iman…! akal pikiran dan logika tidak akan mampu menembus hakikatnya, hanya dengan keyaqinan hati saja makna iman dapat tersingkap.

·         BERIMAN KEPADA YANG GHAIB

Beriman kepada yang ghaib yaitu beriman kepada Allah SWT, kepada semua perkara yang ghaib dan kepada seluruh yang diberitakan Rasulullah SAW, tanpa menghendaki bukti yang nampak, atas dasar keyaqinan yang kuat dan membenarkannya. Menolak kesenangan-kesenangan yang sifatnya sementara, menafikan kejadian-kejadian yang biasa nampak dalam pandangan manusia dan pengalaman empiris (material), sebab lebih membenarkan apa-apa yang diberitakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW tentang hal itu.



................................................. 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa... (Al Baqarah ; 177)




................................................. 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)...”(Al A’raaf : 59)




................................................. 

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ? (An Nissa ; 87)




...............

sory ya sob gk ada ayat nya ozt pasbuatnya lagiburu-buru sih hehehe
n cri sndri jha ayatnya ok .......
g mna tertarik gk untuk baca ?????

berhubung penjelasanya panjang bngt dan untuk membercepat akses biar loading nya gk lama saya kasih jlan pintas dh.....
bagi yang mau baca artikel ini secaralengkap dan ingin mendownload nya silahkan klik gambar di bawah ini :



 
Copyright © 2011. Centry_jazz.blog - All Rights Reserved
Template Created by
Proudly powered by Entrys Informatika